REPUBLIKA.CO.ID, Kota Batavia sekitar 100 tahun lalu hanya berpenduduk 450 ribu jiwa. Dua puluh lima ribu di antaranya adalah orang Eropa dan dari jumlah itu, dua per tiganya Indo-Belanda...
Kamis 24 Sep 2026 17:11 WIB
•
Oleh: Karta Raharja Ucu
REPUBLIKA.CO.ID, Kota Batavia sekitar 100 tahun lalu hanya berpenduduk 450 ribu jiwa. Dua puluh lima ribu di antaranya adalah orang Eropa dan dari jumlah itu, dua per tiganya Indo-Belanda alias blasteran.
Kasta warga Indo-Belanda atau Indo-Eropa tidak setara dengan orang Eropa. Mereka lahir dari tuan orang Belanda dan gundik atau Nyai seorang pribumi. Bagi VOC, orang Belanda atau Eropa yang lahir di tanah jajahan apalagi lahir dari rahim seoragn gundik kastanya sangat rendah.
Meski dipandang rendah oleh orang Eropa atau Belanda, warga Indo-Eropa tersebar di seluruh kota dan hidup dalam rumah besar maupun dalam tempat tinggal sederhana. Bahkan banyak juga yang tinggal di sepanjang jalan becek dan kotor di kampung-kampung yang terletak di pinggir kota, seperti Kemayoran, Jakarta Pusat.
Kampung ini dikenal dengan istilah Belanda Kemayoran. Maksudnya, Indo Belanda yang tinggal di Kemayoran.
Kemayoran bukan satu-satunya masyarakat Indo-Belanda berkumpul. Di beberapa kampung di Batavia juga banyak tinggal para Indo Belanda atau orang China totok. Namun, jika China totok enggan bergaul dengan orang kampung pribumi, tidak demikian dengan para Indo.
Alwi Shahab, wartawan Republika pernah merawikan ketika masih anak-anak dan tinggal di Kwitang, dia banyak bergaul dengan para Indo Belanda. Hampir setiap hari Alwi Shahab bermain sepakbola dengan anak-anak Indo-Belanda di lapangan Kwitang dan Lapangan Gambir yang kini berubah menjadi Kawasan Monas.
Warga Belanda dan Indo meninggalkan Indonesia pertengahan 1950-an ketika hubungan kedua negara putus karena masalah Irian Barat (Papua). Pusat kota di Batavia pada 1928 didominasi rumah-rumah besar.
Sampai 1950-an, di jalan raya antara Kramat, Salemba, Matraman, dan Jatinegara, terdapat banyak rumah (gedung) besar dengan pekarangan yang begitu luas. Kini gedung-gedung tersebut berubah fungsi menjadi perkantoran, perusahaan dan perhotelan.
Salah satu bangunan bersejarah adalah Gedung Arsip Nasional dan Departemen Sosial yang berada di Jalan Salemba dulunya merupakan rumah tinggal. Rumah-rumah tersebut pada awalnya dibangun sebagai tempat tinggal di luar kota (county residence) bagi orang Eropa, tetapi secara bertahap mereka terserap menjadi wilayah pinggiran kota.
Ketika itu, tulis Pamela Pattynama dalam buku Recalling the Indies, status dan kemakmuran penduduk dapat diukur dari tempat tinggalnya. Beberapa rumah menyerupai istana dengan ruangan dingin beratap tinggi yang dilengkapi galeri dan teras marmer dilatari dengan halaman rumput, hiasan pohon palem dan pohon lainnya.
| # | Наименование новости | Тональность | Информативность | Дата публикации |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Развожаев: население Севастополя за девять лет увеличилось почти на 165 тыс. человек | 0 | 0 | 17-03-2023 |
| 2 | Швейцарская газета назвала впечатляющей миграцию в РФ из недружественных стран | 0 | 0 | 03-08-2025 |
| 3 | Население Литвы за год уменьшилось на 20 тыс. человек | 0 | 0 | 01-10-2018 |
| 4 | Население России сократилось на 316 тыс. человек за семь месяцев 2020 года | 0 | 0 | 18-09-2020 |
| 5 | Число граждан Японии впервые сократилось во всех 47 префектурах | 0 | 0 | 26-07-2023 |
| 6 | Между традицией и исчезновением: коренные народы Забайкалья | 0 | 16.25 | 09-08-2026 |
| 7 | Хуснуллин: население Мариуполя к 2025 году должно возрасти до 350 тыс. человек | 0 | 0 | 01-08-2022 |
| 8 | В Туве в период паводка прогнозируется подтопление более 1 тыс. домов | 0 | 0 | 08-02-2023 |
| 9 | Около 25 тыс. человек остались без света на Бермудских островах из-за урагана "Умберто" | 0 | 0 | 19-09-2019 |